Doa Sebelum dan Sesudah Ibadat


Doa sebelum Ibadat

Allah, Bapa kami, kami bersyukur kepada-Mu karena Engkau mengundang kami ikut serta dalam ibadat ini. Dengan rendah hati kami datang, membawa serta pujian, syukur, sukaduka, dan segala kekurangan serta dosa-dosa kami. Kami meluhurkan nama-Mu, karena lewat ibadat ini kami boleh mengenang peristiwa keselamatan dalam sengsara, wafat, dan kebangkitan Yesus.

Kami mohon penerangan Roh Kudus-Mu agar segala perhatian, perasaan, dan akal budi kami senantiasa terarah kepada-Mu.

Berikanlah rahmat kebijaksanaan, kesucian, dan kesetiaan bagi para pelayan ibadat, agar mereka mampu membawa kami semua semakin dekat kepada-Mu.

Kami mohon rahmat persekutuan dan kekuatan bagi mereka yang tak bisa hadir dalam ibadat hari ini. Bantulah mereka yang berada dalam berbagai kesulitan, agar mereka pun sadar bahwa hanya dalam persekutuan cinta-Mu orang yang susah akan dihibur, yang berbeban berat akan diringankan, dan yang tanpa harapan akan memperoleh kepastian kembali.

Semoga rahmat-Mu melimpah atas kami semua yang berkumpul dalam nama-Mu. Sebab dengan mendengarkan dan merenungkan sabda-Mu kami memperoleh kekuatan untuk menghadapi kehidupan sehari-hari. Doa ini kami sampaikan kepada-Mu dengan pengantaraan Kristus, Tuhan kami.

(Amin.)


 Doa sesudah Ibadat

Allah, Bapa yang mahamurah. Kami bersyukur kepada-Mu karena Engkau telah menguatkan kami melalui kehadiran-Mu dalam ibadat ini.

Kami bersyukur kepada-Mu karena Engkau telah membagikan kelimpahan cinta kasih-Mu kepada kami. Kami bersyukur, karena persekutuan cinta kasih ini.

Semoga hidup kami dipenuhi rasa syukur baik dalam suka maupun dalam duka. Semoga persekutuan kami dengan Yesus dalam ibadat ini menguatkan iman kami sehingga kami mampu menjadi saksi-saksi-Mu di tengah-tengah masyarakat.

Bapa, kami mohon rahmat-Mu bagi mereka yang tidak bisa hadir dalam ibadat pada hari ini. Semoga mereka semua tetap dalam naungan kasih-Mu. Sebab Engkaulah yang hidup dan berkuasa bersama Putra dalam persekutuan Roh Kudus, kini dan sepanjang masa.

(Amin.)

Doa-doa Liturgis


Salah satu kegiatan pokok orang beriman, terutama sebagai anggota Gereja, adalah berdoa. Ada pelbagai jenis doa, yakni: doa liturgis, doa pribadi, dan doa devosi (lihat KL 11-13). Yang termasuk dalam doa-doa liturgis adalah perayaan sakramen-sakramen, perayaan sakramentali, dan Ibadat Harian. Doa-doa ini bersifat liturgis karena ada unsur “resmi” (selaras dengan kesepakatan Gereja) dalam unsur-unsur yang dipakai: barang/benda, gerak, kata, nyanyian, peserta, petugas, pakaian, warna, ruang, dan waktu. Lebih dari itu semua, doa-doa disebut liturgis karena merupakan pelaksanaan karya penebusan manusia (lihat KL 2) dan menjadi pujian-syukur bagi Allah serta pengudusan untuk manusia (lihat KL 7). Doa-doa liturgis bukanlah tindakan perorangan melainkan merupakan tindakan Gereja (lihat KL 26).

Lingkaran Harian

Menurut kebiasaan Gereja, ada tata waktu dalam pengaturan doa. Tata waktu ini mengingatkan kita akan karya penyelamatan Allah. Waktu pagi kita berdoa sambil mengenang penciptaan alam semesta dan kebangkitan Tuhan Yesus. Menjelang siang, waktu mulai bekerja, kita mengenang turunnya Roh Kudus atas para rasul. Pada tengah hari kita mengenang Kristus yang bergantung di salib. Pada petang hari kita mengenang Kristus yang wafat demi keselamatan kita, Pada malam hari kita bersyukur atas segala anugerah Allah bagi kita, dan kita menyerahkan diri ke dalam tangan-Nya.

Ibadat Pagi

Ibadat Pagi dimaksudkan dan diatur untuk menguduskan pagi hari. Hal ini nyata dari kebanyakan unsur-unsurnya. Sifat pagi ini diungkapkan dengan sangat baik oleh kata-kata S. Basilius Agung (abad ke-5), “Maksud Ibadah Pagi ialah supaya gerakan pertama hati dan budi kita disucikan bagi Allah. Janganlah kita menerima suatu tugas apa pun sebelum kita disegarkan oleh pemikiran akan Allah, seperti tertulis: ‘Apabila aku ingat akan Allah, aku disegarkan’ (Mm. 77:4). Jangan sampai badan kita digerakkan untuk bekerja, sebelum kita melakukan yang dikatakan dalam mazmur, ‘Kepada-Mu aku berdoa, ya Tuhan, waktu pagi Engkau mendengarkan seruanku, sejak pagi aku mengharapkan belas kasih-Mu” (Mzm 5:4-7).

Ibadat Pagi didoakan waktu fajar menyingsing dan mengingatkan kita akan kebangkitan Tuhan Yesus. Dialah cahaya sejati yang menerangi semua orang, dan “matahari keadilan” (Mal 4:2), yang terbit laksana fajar cemerlang” (Luk 1:78). Maka dari itu sungguh tepat pernyataan S. Siprianus, “Kita harus berdoa pagi hari, guna merayakan kebangkitan Tuhan dengan doa pagi.” (PIH 38) Ibadat pagi Juga mengenang penciptaan dan memuji Sang Pencipta.

Kerangka Ibadat Pagi: Pembukaan, Ajakan Memuji Allah, Madah, Pendarasan Mazmur, Bacaan Singkat, Lagu Singkat, Kidung Zakharia, Doa Permohonan, Bapa Kami, Doa Penutup, Penutup.

Pembukaan :

Ya Tuhan, sudilah membuka hatiku.
Supaya mulut ku mewartakan pujian-Mu.

Ajakan Memuji Allah (Ulangan, 1-4: pilih salah satu) :

  1. Marilah kita bernyanyi bagi Tuhan, bersorak-sorai bagi penyelamat kita (Alleluya).
  2. Marilah menghadap wajah-Nya dengan lagu syukur, menghormati-Nya dengan pujian (Alleluya).
  3. Mari bersujud dan menyembah, berlutut di hadapan Tuhan, pencipta kita (Alleluya).
  4. Hari ini dengarkanlah suara-Nya: Janganlah bertegar hati! (Alleluya).

Ya Bapa, utuslah santo/a pelindungku, para malaikat pelindung, dan Bunda Maria sendiri, supaya mendampingi aku sepanjang hari ini. Ini semua aku mohon dengan pengantaraan Yesus, Tuhanku. (Amin.)

Ibadat Sore

Ibadat Sore dirayakan waktu matahari terbenam. Bila hari sudah senja lewat ibadat ini kita “bersyukur atas anugerah yang telah kita terima pada hari ini atau atas kebaikan yang telah kita perbuat”. Kita juga mengenang kembali karya penebusan dengan doa yang kita panjatkan ‘bagaikan dupa yang membumbung ke hadirat Tuhan, dengan tangan yang kita tadahkan bagaikan kurban petang” (Mzm 141: 2). Ini juga dapat diartikan sebagai “kurban petang sejati, yang diwariskan oleh Tuhan, Penyelamat, waktu sore ketika sedang mengadakan perjamuan dengan para rasul untuk memulai misteri suci Gereja. Dapat juga diartikan sebagai kurban pada petang berikutnya, ketika Penyelamat kita menadahkan tangan untuk mempersembahkan diri kepada Bapa demi keselamatan seluruh dunia”. Untuk mengarahkan perhatian kita kepada cahaya yang tak kunjung terbenam, “kita berdoa dan memohon, agar cahaya terbit lagi bagi kita; kita berdoa untuk kedatangan Kristus, yang akan menganugerahkan rahmat cahaya kekal”. Pada waktu Ibadat Sore ini pun kita menggabungkan diri dengan Gereja-gereja Timur sambil berseru: “Terang kegembiraan Bapa surgawi yang suci, mulia dan kekal, yaitu Yesus Kristus: pada waktu matahari terbenam kami memandang terang senja dan bermadah kepada Bapa, Putra, dan Roh Kudus sebagai Allah …. .” (lihat PIH 39).

Kerangka Ibadat Sore adalah sebagai berikut: Pembukaan Madah – Pendarasan Mazmur – Bacaan Singkat – Lagu Singkat Kidung Maria – Doa Permohonan – Bapa Kami – Doa Penutup Penutup.

Sakramen


Semua yang dikatakan mengenai liturgi sebagai doa Gereja dalam kesatuan dengan Kristus berlaku secara istimewa untuk upacara-upacara liturgi yang disebut “sakramen”. Boleh dikatakan bahwa tujuh sakramen merupakan liturgi dalam arti yang paling padat.

Konsili Vatikan II mengajarkan juga bahwa “Gereja tiada putusnya memuji Tuhan dan memohonkan keselamatan seluruh dunia bukan hanya dengan merayakan Ekaristi, melainkan dengan cara-cara lain juga, terutama dengan mendoakan Ibadat Harian” (SC 83). Artinya, liturgi tidak terbatas pada bidang sakramen saja, tetapi mencakup juga Ibadat Harian. Secara singkat dapat dikatakan bahwa liturgi terdiri dari perayaan sakramen (lengkap dan dengan segala upacara-perayaan yang menyertainya) dan Ibadat Harian. Tetapi Ibadat Harian sesungguhnya tidak “umum” di dalam Gereja. Yang wajib merayakan Ibadat Harian dalam koor (bersama-sama), ialah

  1. dewan pembantu uskup, para rahib dan rubiah, serta para imam biarawan lainnya, yang terikat pada Ibadat Harian bersama menurut hukum atau konstitusi tarekat; 
  2. dewan para imam katedral atau para penasihat uskup untuk sebagian (SC 95).

“Para rohaniwan, yang tidak terikat kewajiban doa koor (bersama), bila sudah menerima tahbisan tinggi, setiap hari wajib mendoakan seluruh Ibadat Harian, entah bersama-sama, entah sendiri-sendiri” (SC 96; KHK kan. 1174).

Kekhususan sakramen kiranya dapat dimengerti dengan lebih jelas, bila dibandingkan dengan tugas pengajaran Gereja. Dikatakan bahwa “keseluruhan kaum beriman tidak dapat sesat dalam beriman” (LG 12). Ketidak-sesatan itu paling “terjamin” bila iman dirumuskan secara resmi oleh pimpinan Gereja menurut syarat-syarat tertentu. Begitu juga dengan liturgi. Liturgi senantiasa merupakan doa Gereja dalam kesatuan dengan Kristus. Dalam perayaan liturgi yang paling resmi, yakni dalam sakramen-sakramen, Kristus diimani kehadiran-Nya secara istimewa. St. Agustinus menyebut sakramen “rahmat yang tak kelihatan dalam bentuk yang kelihatan” (DS 1639).

Dalam bagian mengenai ‘rahmat‘ sudah dikatakan bahwa “rahmat” berarti kasih Allah kepada manusia. Dengan sewajarnya disebut “rahmat” atau kerahiman, karena dari pihak manusia tidak ada apa-apa yang dapat dipandang sebagai dasar atau “hak” untuk kasih Allah itu. Oleh dosanya manusia malah semakin tidak mempunyai dasar untuk mengharapkan sikap Allah yang luar biasa itu. Rahmat adalah misteri kasih pribadi Allah, yang mengatasi segala pikiran dan angan-angan manusia. Rahmat berarti manusia diterima sebagai anak dan dibuat “serupa dengan gambaran Anak-Nya” (Rm 8:29), yaitu Yesus Kristus, dan selanjutnya bersatu-padu dengan Kristus – oleh Roh Kudus – dalam penyerahan-Nya kepada Bapa.

Justru karena merupakan kasih Allah, rahmat tidak pernah berarti paksaan, tetapi selalu mengandaikan jawaban bebas dari manusia terhadap kasih-kerahiman Allah. Jawaban manusia itu adalah iman. Maka dilihat dari sudut manusia, rahmat adalah iman. Tidak mengherankan bahwa Konsili Vatikan II memakai kata “sakramen iman”, sebab “sakramen tidak hanya mengandaikan iman, melainkan juga memupuk, meneguhkan, dan mengungkapkannya dengan kata-kata dan benda. Maka juga disebut sakramen iman” (SC 59; lih. PO 4). Entah dilihat sebagai pernyataan kasih Allah, entah sebagai pengungkapan iman manusia, sakramen selalu berarti penampakan kesatuan Kristus dengan Gereja-Nya, dengan cara yang berbeda-beda, sehingga ada tujuh sakramen. Dalam arti sesungguhnya sebenarnya hanya ada satu sakramen saja, yakni Gereja sendiri.

Gereja sebagai keseluruhan “menampilkan dan sekaligus mewujudkan misteri cinta kasih Allah kepada manusia” (GS 45). Yang disebut “tujuh sakramen” sebenarnya adalah upacara-perayaan yang di dalamnya Gereja mewujudkan diri secara khusus. Bidang liturgi pada umumnya, sakramen-sakramen pada khususnya adalah bidang penghayatan iman Gereja yang khusus (di samping bidang pewartaan dan bidang pelayanan). Gereja itu Gereja antara lain dengan mengungkapkan imannya dalam perayaan tujuh sakramen, khususnya sakramen Ekaristi.

Sekularisme dan Sekularisasi


Pada masa lampau humanisme sering diartikan sebagai pandangan hidup, yang menempatkan manusia di pusat dan menyingkirkan Allah dari dunia. Dewasa ini pun ada orang yang merasa bahwa tidak ada tempat bagi Tuhan di dunia. Yang riil dan berarti hanyalah dunia, semua yang lain adalah khayalan manusia. Sikap ini disebut sekularisme. Memang orang beriman juga mengakui bahwa “langit kepunyaan Tuhan, dan bumi telah diberikan-Nya kepada anak-anak manusia” (Mzm 115:16). Tetapi dengan demikian tidak dilupakan bahwa Tuhanlah yang “menjadikan bumi dan menciptakan manusia di atasnya” (Yes 45:12; lih. Yer 27:5). Manusia ditempatkan di bumi “untuk mengusahakan dan memeliharanya” (Kej 2:15), tidak untuk membuatnya menjadi pusat kehidupannya. Asas dan dasar kehidupan manusia adalah keyakinan bahwa

“Orang tercipta untuk memuji, menaruh hormat dan mengabdi Allah Tuhan kita dan – melalui itu – menyelamatkan jiwanya; dan hal-hal lain di muka bumi tercipta demi orang, dan untuk membantunya dalam mengejar tujuan yang untuknya ia tercipta. Dari pada itu disimpulkan, bahwa orang harus memanfaatkan hal-hal itu hanya sejauh membantunya untuk tujuannya; dan harus meninggalkan hal-hal itu hanya sejauh untuk itu menghalang-halanginya” (St. Ignatius Loyola).

Pujian, hormat, dan pengabdian kepada Tuhan pertama-tama dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari, lebih khusus dalam kasih kepada sesama. Itu tidak berarti bahwa manusia juga tidak secara khusus mengungkapkan sikap itu dalam bentuk yang khusus, yang lazim disebut ibadat dan agama atau bidang sakral. Hanya saja, janganlah agama dan kebaktian dijadikan pokok kehidupan. Itu tidak sesuai dengan kehendak Kristus. Oleh karena itu, bisa terjadi bahwa bidang sakral perlu dikurangi dan dibuat sekular kembali. Itu yang disebut desakralisasi atau sekularisasi. Sekularisasi ini tidak sama dengan sekularisme, sebab tujuannya bukanlah menghapus segala bentuk sakral, tetapi hanya kelebihannya.

Sekularisasi perlu dibedakan dari profanasi. Yang terakhir ini berarti bahwa sesuatu yang sakral (dikhususkan untuk agama) diperlakukan seolah-olah barang profan (bukan-sakral). Maka profanasi dengan sengaja tidak mau mengakui yang sakral. Sebaliknya sekularisasi merupakan suatu proses sosial yang mau membatasi bidang sakral pada proporsi yang sebenarnya. Misalnya, para imam yang memakai jubah tidak sebagai pakaian biasa, tetapi hanya kalau benar-benar menjalankan tugas kegerejaan. Tentu saja dengan sendirinya timbul persoalan: Bagaimana menentukan batas kesakralan yang wajar? Dalam hal ini sekularisasi tidak jarang melampaui batas, karena mau menghapus (hampir) seluruh bidang sakral dan dengan demikian jatuh ke dalam sekularisme. Pada masa lampau, khususnya di Barat, “sekularisasi” sering dimaksudkan rebutan kuasa antara Gereja dan negara, yang di dalamnya lembaga dan milik Gereja disita oleh negara. Memang harus diakui bahwa peranan sosial agama tidak selalu dan di mana-mana sama. Maka dalam perkembangan sejarah, suatu proses sekularisasi sering tidak dapat dihindarkan, bahkan kadang-kadang malah diperlukan. Namun dari pihak lain tidak dapat disetujui pendapat bahwa agama hanyalah soal batin dan pribadi melulu. Ada segi sosialnya juga sehingga, oleh karena itu, agama mempunyai tempat dalam masyarakat.

Memang perlu dihindari bahwa segala perhatian dipusatkan pada agama saja, seolah-olah iman dan agama sama. Padahal agama, dengan segala peraturan dan kegiatannya, hanya merupakan sarana dan jalan memperkuat dan menyokong iman, yang harus diwujudkan dalam kehidupan yang nyata. Yang pokok bukan agama, melainkan iman sebagai sikap dan orientasi dasar. Yang penting bukan iman yang diungkapkan, melainkan iman sebagai dasar dan dorongan hidup yang nyata, iman sebagai sikap dasar, iman sebagai sumber kehidupan.

Agama Kristen


Yang pokok dalam agama Kristen tentu Yesus Kristus sendiri, yang tidak hanya diimani sebagai nabi, utusan Allah, tetapi sebagai “pengantara antara Allah dan manusia” (1Tim 2:4). Maka iman Kristen mengenai Yesus, Anak Allah, berbeda sama sekali dengan iman orang muslim terhadap nabi Muhammad atau orang Budha terhadap Sang Budha. Dengan demikian, paham Kristen mengenai tradisi dan Kitab Suci berbeda. Tradisi pertama-tama mengenai Yesus yang diakui sebagai Kristus, Tuhan. Tradisi berpusat pada pribadi Yesus sendiri, dan dalam kerangka itu tidak hanya meneruskan fakta kehidupan Yesus, melainkan juga ajaran-Nya. Tradisi memang berpangkal dan berasal dari Yesus, tetapi tidak dirumuskan dan dituliskan oleh Yesus sendiri. Tradisi dan Kitab Suci merupakan pengungkapan iman akan Yesus. Maka di dalamnya juga terungkap sikap manusia yang benar di hadapan Allah dan sesama. Di dalam Tradisi termuat banyak unsur etis atau moral juga. Tetapi itu pun dalam rangka iman akan Yesus. Iman akan Yesus berarti keyakinan bahwa “Kristus adalah ‘ya’ bagi semua janji Allah” (2Kor 1:20); “di dalam Dia berkat Abraham sampai kepada bangsa-bangsa lain” (Gal 3:14). Karena itu Tradisi tidak hanya berbicara mengenai Yesus, tetapi juga mengenai “berkat Abraham” itu serta seluruh sejarah yang berhubungan dengannya. Tradisi merupakan kesaksian mengenai tindakan penyelamatan Allah, mulai dengan panggilan Abraham. Seluruh sejarah bangsa Yahudi sampai zaman Yesus termasuk Tradisi. Tradisi Kristen sebenarnya tradisi Yahudi-Kristiani, sebab Yesus dan para rasul-Nya adalah orang Yahudi, yang hidup dari tradisi Yahudi. Dengan demikian Tradisi ini kuno sekali, mulai dengan panggilan Abraham, yang kiranya terjadi sekitar tahun 1850 SM. Tetapi dengan kedatangan Yesus, khususnya dengan wafat dan kebangkitan-Nya, sejarah keselamatan Allah mencapai puncak dan kepenuhannya. Oleh karena itu Tradisi sampai dengan Yesus, khususnya sejauh termuat di dalam Kitab Suci, dengan tegas dibedakan dari Tradisi sesudah-nya, yang hanya menerangkan dan menanggapi peristiwa Yesus.

Tradisi tidak hanya berupa ajaran. Bahkan, yang paling penting adalah kehidupan umat sendiri, yang meneruskan diri dari satu angkatan kepada angkatan yang lain. Maka di samping ajaran, Tradisi berarti adat kebiasaan, baik dalam ibadat maupun dalam hidup bersama. Bahkan organisasi jemaat juga termasuk di dalamnya. Boleh dikatakan bahwa Tradisi sebenarnya tidak lain daripada komunikasi iman jemaat, sepanjang masa. Komunikasi iman itu tidak terbatas pada pengungkapan iman saja, baik dalam ajaran maupun dalam ibadat, tetapi juga menyangkut perwujudan iman dalam hidup yang konkret. Yang paling penting ialah bahwa iman sendiri diakui sebagai anugerah Allah. Maka yang membuat Tradisi dan juga umat bukanlah manusia, melainkan Allah yang memanggilnya. Umat sendiri diimani sebagai umat Allah, yang digerakkan dan dipersatukan oleh Roh Allah. Memang umat itu manusia yang dipanggil Allah dan oleh karena itu umat juga mempunyai struktur dan organisasi insani. Dalam hal ini ada perbedaan antara orang Kristen Protestan dan orang Kristen Katolik, sebab yang Katolik melihat badan pengurus atau hierarki Gereja, bukan hanya sebagai struktur organisatoris saja, melainkan sebagai pelaksanaan insani dari pimpinan ilahi. Tugas dan wewenang yang diberikan Kristus kepada dewan para rasul, sekarang diwujudkan dalam dewan para uskup, yang dipimpin oleh paus dan dibantu oleh para imam dan diakon. Dengan demikian umat memang mempunyai organisasi sendiri, lepas dari struktur masyarakat umum. Gereja dan negara terbedakan. Gereja sendiri, di samping struktur fungsional organisatoris itu, juga mempunyai aneka struktur kharismatis, yang terwujudkan terutama dalam hidup membiara. Dengan demikian ternyata ada banyak kelompok dan gerakan di dalam kalangan Gereja sendiri. Semua itu mengabdi kepada kehidupan bersama yang berasal dari Roh Kristus. Dengan pembaptisan orang diterima dalam umat itu, dan dalam perayaan Ekaristi kesatuan umat mendapat bentuk ibadat yang nyata.

Ibadat Kristen tidak terbatas pada perayaan Ekaristi atau Perjamuan Tuhan. Penerimaan di dalam jemaat atau pengangkatan sebagai pemimpinnya merupakan upacara yang penting. Peristiwa pokok kehidupan, seperti kelahiran, perkawinan dan sakit serta kematian mempunyai hubungan langsung dengan kehidupan jemaat. Begitu juga pertobatan dan perutusan. Di dalam upacara atau perayaan itu yang paling penting ialah puji-syukur kepada Allah, sebab keselamatan tidak dikerjakan oleh manusia sendiri, melainkan merupakan anugerah Tuhan. Maka tanggapan iman manusia dinyatakan pertama-tama dalam ucapan syukur dan terima kasih. Oleh karena itu ibadat Kristen tidak pernah dapat dilepaskan dari pewartaan karya keselamatan Allah. Dalam hal ini kelihatan juga suatu perbedaan antara Katolik dan Protestan. Di kalangan Protestan lebih dipentingkan pewartaan, di dalam Gereja Katolik amat diperhatikan perayaan. Tetapi baik perayaan maupun pewartaan bertujuan peneguhan iman. Sebab “manusia dibenarkan karena iman” (Rm 3:28). Iman itu tidak hanya diakui dan dirayakan bersama-sama. Ibadat dan doa pribadi juga mempunyai tempat yang amat penting dalam Tradisi Kristen, sebab akhirnya iman tidak hanya diungkapkan, tetapi terutama diwujudnyatakan dalam hidup pribadi setiap orang beriman.

Oleh karena itu, ibadat dapat dan harus dijalankan di mana-mana. Namun ada tempat ibadat khusus, yang juga disebut gereja. Di dalam gedung itu umat “berkumpul sebagai jemaat” (1Kor 11:18). Maka gereja dipandang sebagai tempat yang suci, bukan karena gedung itu sendiri suci, tetapi karena dikhususkan untuk pertemuan umat dengan Tuhan. Begitu juga banyak hal lain yang dikhususkan untuk ibadat dihormati sebagai hal yang suci, tetapi tidak pernah barang atau orang atau juga patung dan gambar dianggap suci dalam dirinya sendiri, melainkan hanyalah karena hubungannya dengan iman akan Tuhan. Sama halnya dengan pemimpin dan petugas ibadat. Yang diangkat menjadi pemimpin jemaat, juga berfungsi sebagai pemimpin ibadat. Tetapi ibadat sendiri merupakan ungkapan iman seluruh umat. Maka masih ada banyak petugas yang lain, dan pada dasarnya seluruh umat terlibat di dalamnya, sebab ibadat bukan hanya ibadat perorangan yang dilakukan bersama di tempat yang sama, terpimpin oleh orang yang sama. Ibadat Kristen itu benar-benar perayaan bersama, yang di dalamnya masing-masing orang mempunyai tugas dan peranan. Tidak ada pangkat dan derajat, semua adalah saudara dalam Tuhan. Semua disucikan bukan oleh upacara atau kata-kata manusia, tetapi oleh Roh Allah yang mempersatukan semua dalam iman yang sama.

Iman dan Agama


Iman, lebih-lebih kalau telah berkembang menjadi pengharapan dan kasih, merupakan suatu sikap “penyerahan diri seutuhnya kepada Allah” (DV 5). Dalam hidup manusia sikap batin itu harus dinyatakan keluar, pertama-tama dalam kasih kepada sesama. Tetapi tidak hanya itu. Ketika Musa berhadapan dengan Tuhan dalam nyala api yang keluar dari semak berduri, didengarnya suara yang berkata, “Jangan datang dekat-dekat, tanggalkanlah kasut dari kakimu, sebab tempat engkau berdiri adalah tanah yang kudus” (Kel 3:5). Tuhan adalah kudus, dan tempat Tuhan berkenan bertemu dengan manusia, itu pun kudus. Bahkan segala sesuatu yang dikhususkan bagi Tuhan, disebut kudus, Maka ada tempat yang kudus, juga waktu yang kudus, bahasa yang kudus, pakaian kudus, alat kudus, bahkan orang yang kudus, yakni orang yang secara khusus diperuntukkan bagi pelayanan Tuhan. Perjanjian Lama mengenal peraturan rinci mengenai barang dan orang, yang dikhususkan bagi Tuhan dan oleh karenanya disebut kudus (lih. Kel 25-31; Im 17-26). Ini bukan sesuatu yang hanya terdapat pada Israel. Semua bangsa dan kebudayaan mempunyai bidang kudus ini, yang biasanya disebut bidang agama atau juga bidang sakral.

Perlu dicatat bahwa garis pemisah antara yang sakral dan yang profan tidak selalu jelas. Dalam agama Kristen, seperti juga dalam agama Yahudi dan Islam, garis pemisah itu cukup tajam. Tetapi dalam agama-agama lain bidang keagamaan tidak terlampau terpisah dari bidang hidup sehari-hari. Paham agama sebagai bidang yang khusus, terbedakan dari hidup yang profan, berkaitan dengan paham Allah yang transenden. Di mana lebih ditekankan imanensi Allah, di situ juga agama menjadi bagian yang lebih integral dari hidup, dan tidak terlalu dibedakan antara profan dan sakral, Namun, agama-agama itu juga mengenal tempat, waktu dan upacara, dan terutama orang yang “khusus”, guna menyatakan kebaktian kepada Allah.

Jelas sekali, bahwa yang pokok dalam agama adalah sikap batin. Agama yang bersifat lahiriah melulu, dengan sendirinya menjadi formalisme dan sering kosong, tanpa isi. Oleh karena itu yang pokok bukanlah hal-hal yang lahiriah. Namun tanpa bentuk yang nyata komunikasi iman tidak mungkin. Biarpun sikap batin paling penting, namun tanpa pengejawantahan yang jelas iman tidak sungguh manusiawi. Penghayatan iman memerlukan agama. Dalam praktik tidak ada iman tanpa agama, tetapi tentu saja bentuk agama berbeda-beda.

Perbedaan pokok berhubungan dengan sikap batin sendiri dan gambaran Allah. Kalau ditekankan keluhuran dan kedahsyatan Allah, maka agama akan mencari bentuk-bentuk yang khusus dan istimewa. Sebaliknya, kalau lebih diperhatikan Tuhan yang hadir dalam ciptaan-Nya, maka segala sesuatu dengan sendirinya sudah mempunyai warna agama. Oleh karena itu amat sulit membuat suatu definisi agama yang berlaku umum. Iman dan agama kait-mengait, dan iman tidak pernah bersifat umum.

Pada tahun 1952, dalam kerangka pembicaraan mengenai kedudukan aliran-aliran kepercayaan dalam negara dan masyarakat Indonesia. Departemen Agama pernah mengusulkan suatu definisi agama, dengan menyebut beberapa syarat-syarat mutlak, seperti: adanya nabi atau rasul, kitab suci dan pengakuan sebagai agama di luar negeri. Agama Hindu-Bali mengajukan keberatan terhadap definisi itu. Maka selanjutnya definisi itu ditarik kembali dan tidak terpakai lagi. Dalam Penpres no. 1 thn 1965 ( Undang-Undang no. 5 thn 1969) Konfusianisme disebut sebagai agama juga; tetapi kemudian tidak pernah disebut-sebut lagi. Agama “yang diakui pemerintah” ada lima: Islam, Kristen Protestan, Kristen Katolik, Hindu dan Budha. Aliran kepercayaan juga diakui, tetapi tidak sebagai agama (sehingga juga tidak ada di bawah wewenang Departemen Agama, melainkan ditempatkan di bawah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan). Tetapi ini tidak berarti bahwa agama-agama lain, misalnya Yahudi, Zarasustrian, Shinto, Taoisme dilarang di Indonesia. Tidak ada dua golongan agama, yang satu diakui pemerintah dan yang lain tidak, Pengakuan oleh pemerintah sebenarnya hanya berarti bahwa agama-agama itu mendapat pelayanan khusus dari Departemen Agama.

Kendatipun tidak mungkin memberikan suatu definisi umum mengenai agama, dapat disebut sejumlah gejala atau unsur yang pada umumnya didapati dalam agama-agama. Di bawah ini disebutkan lima unsur: jemaat, tradisi, ibadat, tempat ibadat, dan petugas ibadat.

1. Jemaat

Yang pertama-tama harus disebut ialah umat beragama sendiri. Umat beragama bukanlah suatu kumpulan umat yang biasa. Yang mengikat mereka bukan pertama-tama organisasi, melainkan ikatan batin. Bagaimana ikatan batin itu diterangkan atau digambarkan, berbeda pada masing-masing agama. Biasanya umat beragama merasa diri dipersatukan bukan hanya atas inisiatif atau upaya para anggota. Tuhan sendirilah yang mempersatukan mereka. Pada umumnya persatuan itu tidak untuk sesaat saja, walaupun juga dalam hal ini agama yang satu berbeda dengan yang lain. Ada yang membatasi umat pada saat perayaan, ada yang menghubungkan keanggotaan dengan seluruh hidup. Pada umumnya umat dan anggota-anggotanya dikenal, tetapi juga ada kelompok agama rahasia. Bisa juga terjadi di dalam umat sendiri ada kelompok-kelompok khusus, Semua itu berhubungan juga dengan unsur-unsur yang lain.

2. Tradisi

Unsur kedua ini luas sekali, dan mencakup beberapa unsur yang’ lain. Yang umum ialah, bahwa semua agama mempunyai sejarah. Khususnya sejarah awal, dengan tokoh-tokohnya, mempunyai arti yang khusus. Banyak agama mengenal seorang nabi atau rasul atau pendiri agama. Tetapi dalam hal ini juga ada perbedaan besar dalam agama-agama. Tidak semua agama menghargai dan mengakui tokoh awal itu dengan cara yang sama. Bahkan, tidak semua agama mempunyai paham sejarah yang sama. Sering kali dalam kisah awal tercampur banyak unsur mitologi, yakni ungkapan simbolis kisah awal

Salah satu unsur tradisi yang amat penting adalah ajaran yang diteruskan secara turun-temurun. Ajaran itu pada umumnya mengandung tiga bidang: ajaran keselamatan, ajaran moral, dan ajaran ibadat. Ajaran keselamatan pertama-tama mengenai Allah dan hubungan-Nya dengan manusia, kemudian juga mengenai sejarah dan organisasi agama itu sendiri, serta bagaimana melalui agama orang dapat bertemu dengan Allah dan diselamatkan. Ini merupakan bagian yang khusus untuk masing-masing agama. Ajaran moral sering bersifat lebih umum, karena mengambil alih banyak unsur dari kebiasaan etis masyarakat. Sebaliknya, ajaran mengenai ibadat hiasanya amat khusus dan kadang-kadang juga dipandang sebagai yang paling pokok. Tradisi ajaran itu biasanya diteruskan tidak hanya secara lisan, tetapi juga melalui buku-buku suci. Dalam hal ini juga ada perbedaan besar dalam arti dan bobot yang diberikan kepada buku-buku itu.

3. Ibadat

Walaupun ibadat ada di dalam semua agama, namun khusus dalam ibadatlah nampak perbedaan antara agama. Ada yang melihat ibadat sebagai pertemuan antara Allah dan manusia. Ada juga yang membatasi ibadat pada ungkapan ketakwaan dan saling mengukuhkan dalam iman. Biasanya dalam hal ini juga ada perbedaan yang amat besar – dipakai simbol-simbol atau tanda yang khusus dalam ibadat, karena baik untuk pengungkapan iman maupun untuk tanda kehadiran Allah, pemakaian bahasa atau ekpresi yang biasa dianggap kurang memadai. Misteri Allah dan penyelamatan-Nya hanya dapat ditunjuk dengan tanda-tanda, tidak pernah dapat dirumuskan atau diungkapkan secara penuh oleh manusia

Ibadat adalah kegiatan manusia. Cara umat mengambil bagian dalam ibadat itu, berbeda dari satu agama ke agama yang lain. Biasanya ada petugas agama yang memimpin ibadat. Tetapi baik peranan mereka maupun partisipasi umat yang lain, amat khusus bagi masing-masing agama. Peraturan ibadat juga amat berbeda-beda. Ada ibadat yang lebih bercorak upacara dengan peraturan yang ketat. Ada juga yang lebih bersifat perayaan dengan warna spontan dan bahkan kharismatis. Semua itu tidak hanya berhubungan dengan sikap batin para peserta, tetapi juga dengan “ajaran” mengenai keselamatan dan ibadat. Ada yang lebih menekankan pengalaman ‘para peserta, ada yang lebih mementingkan pengabdian serta kewajiban.

4. Tempat Ibadat

Ada agama yang di dalamnya arti dan bobot ibadat langsung berhubungan dengan tempat, misalnya pura dalam agama Hindu. Dalam agama Kristen atau Islam, tempat ibadat bersifat sekunder. Orang dapat melakukan ibadat di mana-mana. Namun itu tidak berarti bahwa dengan demikian tempat ibadat tidak dipandang sebagai tempat yang suci. Sebaliknya, karena merupakan tempat yang dikhususkan bagi pertemuan dengan Tuhan, tempat ibadat dipandang sebagai tempat yang suci. Juga kalau ibadat tidak langsung dikaitkan dengan tempat-tempat tertentu, semua agama mempunyai tempat yang dipandang sebagai “bait Allah”, dalam arti mana pun. Di samping atau di dalam tempat itu, ada banyak hal lain yang dikhususkan juga, dan oleh karena itu dipandang sebagai barang suci pula.

5. Petugas Ibadat

Sebetulnya petugas ibadat itu suci, karena ibadat yang dilayani olehnya bersifat suci. Tetapi cukup sering urut-urutannya dibalik: petugas dipandang sebagai orang yang mempunyai daya kesucian (atau kesaktian), yang dalam ibadat dibagikan kepada yang lain. Amat kerap tugas ibadat, yang sebetulnya hanya fungsi, dibuat menjadi status, sehingga orang itu diberi tempat dan kehormatan yang istimewa. Oleh karena itu tidak jarang fungsi, dan terutama kuasa petugas itu diperluas meliputi bidang-bidang lain, sehingga dari petugas ia menjadi pemimpin agama dalam arti yang seluas-luasnya. Dalam hal ini juga ada perbedaan-perbedaan besar antara para petugas ibadat dari pelbagai agama.